Sebagian besar strategi digital marketing di Indonesia masih dibangun di atas logika SEO: optimasi keyword, bangun backlink, kejar ranking. Logika itu tidak salah. Tapi tidak cukup untuk AI search.
Riset Princeton University yang dipresentasikan dalam ACM KDD 2024 menjadi salah satu studi awal yang menguji secara sistematis faktor-faktor yang membuat sebuah konten lebih sering dikutip oleh mesin AI generatif. Penelitian yang dilakukan bersama peneliti dari Princeton, Georgia Tech, IIT Delhi, dan Allen Institute for AI ini menyusun benchmark berisi 10.000 query dari 25 domain, kemudian menguji sembilan strategi untuk mengoptimalkan konten.
Salah satu temuan yang paling menonjol berkaitan dengan penggunaan data. Konten yang menyertakan statistik spesifik memiliki peluang dikutip hingga 41% lebih tinggi dibandingkan konten tanpa data serupa. Bukan karena artikel tersebut lebih panjang atau mengulang lebih banyak kata kunci, melainkan karena AI lebih mudah mengidentifikasi informasi yang konkret dan dapat diverifikasi.
Perbedaannya dapat dilihat dari contoh sederhana. Sebuah artikel skincare yang hanya menulis, "kulit berminyak membutuhkan pelembap yang ringan," memberikan informasi yang benar, tetapi masih bersifat umum. Sebaliknya, artikel yang menyebut, "survei terhadap 2.400 responden menunjukkan 68% pemilik kulit berminyak pernah mengalami breakout setelah menggunakan pelembap berbasis minyak," menawarkan fakta yang lebih spesifik. Dalam kondisi seperti ini, AI cenderung memilih sumber kedua ketika menyusun jawaban.
Lalu, menambahkan kutipan pakar ke dalam artikel akan menaikkan visibilitas 28%. Dalam SEO, kutipan hampir tidak memengaruhi ranking. Dalam AI search, kutipan menjadi sinyal kredibilitas yang langsung direspons model.
Konten yang mengutip sumber terpercaya menaikkan visibilitas 30% hingga 40%. Ada logika melingkar di sini: untuk dikutip AI, konten perlu mengutip pihak lain yang sudah dipercaya AI.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pengulangan keyword secara berlebihan tidak lagi memberikan keuntungan yang berarti. Berbeda dengan mesin pencari tradisional, generative engine memahami konteks menggunakan model bahasa, bukan sekadar mencocokkan kata kunci.
Penelitian ini juga menemukan pola yang menarik terkait posisi website di hasil pencarian Google. Strategi "Cite Sources" justru memberikan peningkatan visibilitas paling besar pada situs yang berada di posisi kelima SERP, yakni sebesar 115,1%. Sebaliknya, pada situs yang sudah berada di posisi pertama, visibilitasnya menurun 30,3%.
Temuan ini menunjukkan bahwa peluang untuk muncul dalam jawaban AI tidak selalu mengikuti urutan peringkat di Google. Website yang belum menempati posisi teratas tetap berpeluang dikutip selama menyajikan informasi yang mudah diverifikasi dan didukung sumber yang jelas.