Kelas Menengah Indonesia Menyusut, Industri Parfum Lokal Tumbuh 53%

Rumah terasa semakin sulit dijangkau dan cicilan semakin membebani banyak rumah tangga Indonesia. Di tengah tekanan biaya hidup yang terus meningkat, parfum lokal justru tumbuh agresif dan menjadi salah satu kategori konsumsi yang tetap berkembang.
Penjualan parfum di e-commerce Indonesia mencapai Rp6,1 triliun (~USD386 juta) pada 2025 atau naik 53 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini terjadi ketika kelas menengah Indonesia menyusut dan daya beli masyarakat terus tertekan.
Fenomena tersebut dapat dibaca melalui konsep lipstick effect, yakni teori konsumsi yang menjelaskan bahwa saat kondisi ekonomi memburuk, masyarakat tetap mencari bentuk kemewahan kecil yang masih terasa terjangkau. Ketika rumah, mobil, dan liburan semakin sulit dicapai, konsumen cenderung tetap menyisihkan uang untuk sesuatu yang memberi rasa nyaman, percaya diri, dan pengalaman personal dalam keseharian.
Di Indonesia, bentuk affordable luxury tersebut semakin sering hadir melalui parfum lokal. Label “alternatif murah” yang selama bertahun-tahun melekat pada parfum lokal mulai kehilangan relevansinya seiring perubahan perilaku konsumen dan perkembangan industri.
Brand lokal kini tidak lagi hanya bersaing lewat aroma, tetapi juga melalui cerita, kedekatan emosional, dan identitas yang terasa relevan bagi anak muda Indonesia. Pergeseran inilah yang membuat pertumbuhan industri parfum lokal menarik untuk diamati, terutama karena terjadi di tengah tekanan ekonomi yang belum sepenuhnya mereda.





