Baca artikel IDN Research Institute lainnya di IDN App
Install
For
You

Paradoks Keberagamaan Gen Z Indonesia, Religius Jarang Ibadah

Paradoks Keberagamaan Gen Z Indonesia, Religius Jarang Ibadah
ilustrasi generasi muda melek politik (unsplash.com/gettyimages)
Intinya Sih
  • Gen Z Indonesia menunjukkan religiusitas tinggi secara identitas dan nilai, namun data nasional 2023–2026 menegaskan bahwa praktik ritual mereka paling rendah dibanding generasi lebih tua.
  • Survei Kemenag dan lembaga riset menemukan Gen Z unggul dalam literasi Al-Qur’an serta toleransi antaragama, menjadikannya generasi paling terbuka dan harmonis di antara kelompok usia lain.
  • Media digital menjadi sumber utama pengetahuan agama bagi Gen Z, membentuk ekspresi keagamaan yang lebih selektif, ekspresif, dan tidak selalu diwujudkan lewat rutinitas ibadah harian.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Klaim bahwa generasi muda Indonesia lebih religius dari orang tua mereka beredar luas di ruang diskusi publik. Namun data empiris menunjukkan gambaran yang lebih kompleks. Generasi Z Indonesia memang unggul dalam identitas keagamaan, literasi Al-Qur'an, dan toleransi antaragama, tetapi justru mencatat tingkat pengamalan ritual terendah dibanding generasi yang lebih tua. Artikel ini menelusuri paradoks tersebut melalui rangkaian survei nasional dan internasional dari 2023 hingga 2026, sekaligus menawarkan kerangka untuk memahami transformasi ekspresi keagamaan di era digital.

Pertanyaan tentang seberapa religius generasi muda Indonesia bukan sekadar pertanyaan sosiologis. Ia bersinggungan langsung dengan perdebatan tentang arah demokrasi, toleransi, dan kohesi sosial di negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Di satu sisi, fenomena back to religion terlihat nyata. Konten keagamaan mendominasi media sosial, komunitas rohani di kampus tumbuh pesat, dan istilah seperti hijrah menjadi bagian dari kosakata populer anak muda. Di sisi lain, riset akademik dari tahun ke tahun konsisten menunjukkan bahwa semakin muda seseorang, semakin jarang ia menjalankan kewajiban ritual hariannya.

Dua hal ini tampak kontradiktif. Namun justru di situlah letak keunikan fenomena keberagamaan Gen Z Indonesia. Mereka adalah generasi yang religius secara identitas, tetapi mentransformasi cara ekspresi keimanannya secara signifikan.

Religiusitas sebagai Identitas: Data Komparatif Global

Secara identitas keagamaan, posisi anak muda Indonesia di kancah global cukup mencolok. Survei Varkey Foundation terhadap 20.000 anak muda kelahiran 1995–2001 di berbagai negara menemukan bahwa 93% responden Indonesia menganggap iman dan agama sebagai cara terpenting untuk meraih kebahagiaan, dan angka tersebut menjadi yang tertinggi dari seluruh negara yang disurvei.

Data regional mempertegas temuan ini. Survei ISEAS–Yusof Ishak Institute (2024) terhadap 3.081 mahasiswa di enam negara ASEAN mencatat bahwa 95,3% anak muda Indonesia menyatakan agama sebagai hal penting dalam hidup mereka, sehingga menjadikan Indonesia sebagai negara paling religius di kawasan Asia Tenggara.

Pada tataran pengambilan keputusan sehari-hari, survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan bahwa 79,3% anak muda usia 17–21 tahun sering mempertimbangkan perintah atau nilai agama dalam keputusan penting hidup mereka.

Angka-angka ini konsisten. Pada level identitas dan nilai, anak muda Indonesia adalah salah satu kelompok paling religius di dunia.

Ketika Data Praktik Ritual Bicara Berbeda

Namun gambarannya berubah ketika variabel yang diukur beralih dari identitas ke praktik ritual. Survei nasional Media and Religious Trends in Indonesia (MERIT) bersama Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta (2021) yang melibatkan 1.214 responden Muslim dewasa di 34 provinsi menemukan bahwa Milenial dan Gen Z adalah dua generasi dengan tingkat religiusitas terendah secara berurutan. Koordinator riset Iim Halimatus Sa'diyah menjelaskan bahwa religiusitas dalam konteks ini merujuk spesifik pada "tingkat keseringan atau tidaknya seseorang dalam menjalankan ritual-ritual keagamaan pada kehidupan kesehariannya."

Temuan itu kemudian dikonfirmasi oleh data resmi Kementerian Agama yang lebih baru. Indeks Religiusitas Kemenag 2024, sebuah survei berskala besar dengan 4.000 responden di 34 provinsi menggunakan metode wawancara tatap muka, secara eksplisit mencatat bahwa indeks religiusitas memiliki nilai lebih rendah pada generasi yang lebih muda (Gen Z) dibandingkan generasi-generasi di atasnya. Angka indeks nasional tahun itu mencapai 70,91, naik dari 69,33 pada 2023, tetapi kenaikan tersebut tidak merata lintas generasi.

Data breakdown per generasi pada Indeks Religiusitas Kemenag 2023 bahkan memperlihatkan bahwa seluruh generasi rata-rata rendah pada dimensi keagamaan: Gen Z (64,54), Milenial (64,34), Gen X (64,23), dan Baby Boomers (64,68). Selisihnya tipis, tetapi polanya konsisten karena Gen Z tidak unggul.

Dengan kata lain, semakin muda seseorang, semakin jarang ia shalat, membaca Al-Qur'an, atau berpuasa sunah secara rutin. Tren ini berlaku konsisten dari survei ke survei, baik di wilayah urban maupun rural.

Konfirmasi Terkuat: Dimensi Ritual Selalu Terendah

Temuan paling baru dan paling konsisten justru datang dari dua survei khusus generasi muda yang dirilis Kemenag pada Januari 2026: Indeks Keberagamaan Mahasiswa (IKM) dan Indeks Keberagamaan Siswa (IKS) Tahun 2025.

Survei IKS mencakup siswa Madrasah Aliyah (1.218 responden, 34 provinsi) dan siswa lintas agama lainnya (1.276 responden). Sementara itu, survei IKM mencakup mahasiswa dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam maupun non-Islam. Keduanya menggunakan kerangka teoritis Glock dan Stark (1965) yang membagi religiusitas ke dalam lima dimensi: ideologis, ritualistik, pengalaman spiritual, intelektual, dan perilaku.

Hasilnya mengungkap pola yang identik di kedua kelompok usia. Siswa MA mencatat skor tertinggi pada dimensi ideologis dan pengalaman spiritual, sementara dimensi ritualistik mencatat skor terendah (70,14). Mahasiswa Muslim (PTKI) menempatkan dimensi ideologis sebagai yang tertinggi (94,15), diikuti pengalaman (94,09), perilaku (88,88), intelektual (85,68), dan dimensi ritualistik yang kembali terendah (82,88).

Pola ini bukan anomali, melainkan konsisten dari jenjang SMA hingga perguruan tinggi. Anak muda Indonesia sangat yakin dengan keimanannya (ideologis tinggi) dan merasakan pengalaman spiritual yang kuat (eksperiensial tinggi), tetapi kurang konsisten dalam menjalankan ibadah rutin (ritualistik rendah).

Paradoks Konservatisme Tanpa Ritualisme

Satu lapisan lagi yang memperumit gambaran ini adalah soal konservatisme. Survei MERIT-PPIM (2021) menemukan pola yang berlawanan arah, yakni generasi Milenial tercatat sebagai generasi paling konservatif dalam pandangan keagamaan, diikuti Gen Z, meskipun keduanya adalah generasi yang paling rendah dalam praktik ritual.

Di sini terlihat pemisahan yang jelas antara orthodoxy (kebenaran doktrin yang diyakini) dan orthopraxy (praktik yang dijalankan). Gen Z cenderung berpegang pada pandangan normatif yang ketat tentang apa yang "benar" secara agama, tetapi tidak selalu mewujudkannya dalam rutinitas ibadah harian.

Survei juga menemukan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara responden desa dan kota dalam pola ini. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa fenomena ini bukan sekadar produk urbanisasi, melainkan karakteristik generasional yang lebih mendasar.

Dua Hal yang Benar-Benar Unggul: Literasi dan Toleransi

Di tengah lemahnya dimensi ritual, ada dua hal di mana Gen Z Indonesia terbukti unggul secara data.

Pertama, literasi Al-Qur'an. Survei Indeks Kualitas Kehidupan Beragama Umat Islam 2025 (Kemenag & Alvara Strategic Research, 1.208 responden, 34 provinsi) mencatat bahwa indeks literasi Al-Qur'an Gen Z mencapai 56,29, sehingga mengungguli Milenial (54,06), Gen X (53,97), dan Baby Boomers (50,95). Ekspansi pengajian digital, konten tilawah di YouTube, dan pesantren modern tampak berkontribusi nyata pada kemampuan membaca Al-Qur'an generasi muda.

Kedua, toleransi beragama. Indeks toleransi Gen Z dalam survei yang sama berada di 79,65, lebih tinggi dari Milenial (79,07) dan Baby Boomers (78,63). Pada indikator spesifik sikap menolak pembubaran kegiatan keagamaan pihak lain, Gen Z mencatat skor 80,03 yang menjadi tertinggi dari semua generasi. Temuan ini sejalan dengan Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) 2025 yang mencapai 77,89, skor tertinggi sejak survei dimulai pada 2015.

Kedua capaian ini tidak kecil artinya. Di tengah kekhawatiran tentang polarisasi dan intoleransi di kalangan anak muda, data justru menunjukkan bahwa Gen Z Indonesia adalah generasi paling toleran yang pernah terukur.

Peran Media Digital sebagai Pembentuk Ekspresi Keagamaan

Salah satu faktor paling signifikan yang membedakan keberagamaan Gen Z dari generasi sebelumnya adalah medium transmisi pengetahuan agama. Survei PPIM UIN Jakarta (2021) menemukan bahwa 64,66% Gen Z menjadikan media sosial sebagai salah satu sumber utama pengetahuan agama mereka.

Konsekuensinya berlapis. Di satu sisi, media digital memperluas akses pada konten keagamaan berkualitas dan memperkuat literasi Al-Qur'an. Di sisi lain, ia menciptakan apa yang disebut peneliti PPIM sebagai echo chamber, yakni ruang bergema yang memperkuat pandangan keagamaan yang sudah dimiliki, termasuk yang bercorak konservatif, tanpa mediasi otoritas keagamaan tradisional seperti kyai atau ustad lokal.

Survei IKM 2025 Kemenag sendiri secara eksplisit menyebut bahwa perkembangan teknologi digital termasuk AI menghadirkan tantangan tersendiri bagi keberagamaan generasi muda, terutama dalam hal kualitas sumber pengetahuan agama yang kini semakin mudah diakses tanpa filter.

Kesimpulan: Melampaui Dikotomi "Lebih Religius atau Tidak"

Pertanyaan apakah anak muda Indonesia lebih religius dari orang tua mereka adalah pertanyaan yang kurang tepat sasaran. Data dari 2023 hingga 2026 menunjukkan bahwa yang sedang terjadi bukan sekadar peningkatan atau penurunan religiusitas, melainkan transformasi bentuk keberagamaan.

Gen Z Indonesia unggul dalam identitas dan nilai keagamaan, sehingga mereka religius secara subjektif dan konsisten di survei global. Mereka juga unggul dalam literasi Al-Qur'an dan toleransi antaragama, dan keduanya meningkat serta tertinggi lintas generasi. Sebaliknya, mereka lemah dalam pengamalan ritual harian, sebagaimana dikonfirmasi oleh Kemenag 2023, 2024, dan survei IKM/IKS 2025. Adapun dalam hal konservatisme, posisi mereka ambigu karena pandangan ideologis mereka ketat, tetapi tidak otomatis berbanding lurus dengan ketekunan ritual.

Pemahaman yang lebih akurat adalah bahwa keberagamaan Gen Z Indonesia bersifat expressive dan selective. Agama mereka ekspresikan lewat identitas, pandangan, dan media digital, tetapi tidak selalu mereka internalisasi sebagai rutinitas ibadah harian. Pola ini juga ditemukan pada generasi muda Muslim di konteks global lain, dan ia mengundang tantangan tersendiri bagi lembaga keagamaan formal yang selama ini mendefinisikan religiusitas terutama melalui parameter ritual.

Yang menarik, selama tiga tahun terakhir (2023–2025), seluruh indeks kerukunan dan toleransi beragama Indonesia justru terus naik, dan Gen Z ada di garis depannya. Mungkin itulah sumbangan terbesar generasi ini pada kehidupan keagamaan Indonesia: bukan ketekunan ritualnya, melainkan keterbukaan dan toleransinya.

Sumber

Varkey Foundation, Generation Z: Global Citizenship Survey (2017). Survei melibatkan 20.000 responden usia 15–21 tahun di berbagai negara.

ISEAS–Yusof Ishak Institute, Southeast Asian Youth Survey (2024). Melibatkan 3.081 mahasiswa di enam negara ASEAN.

Indikator Politik Indonesia, Survei Beragama Anak Muda (2021). Sampel 1.200 responden, margin of error ±2,9% pada tingkat kepercayaan 95%

MERIT & PPIM UIN Jakarta, Survei Beragama Anak Muda: Media dan Tren Keagamaan di Indonesia (Desember 2021). Melibatkan 1.214 responden Muslim dari 34 provinsi, margin of error 2,8%

Kemenag RI (Balitbangdiklat), Indeks Religiusitas 2024 (dirilis Januari 2025). Melibatkan 4.000 responden di 34 provinsi, metode wawancara tatap muka multistage random sampling.

Kemenag RI (Balitbangdiklat), Indeks Religiusitas 2023 (dirilis 2024). Metodologi serupa dengan survei 2024.

BMBPSDM Kemenag RI & BRIN, Survei Indeks Keberagamaan Siswa (IKS) Tahun 2025 (dirilis Januari 2026). Siswa MA: 1.218 responden dari 34 provinsi, cluster random sampling, margin of error 2,8%. Siswa lintas agama: 1.276 responden, margin of error 5% per agama.

BMBPSDM Kemenag RI, Survei Indeks Keberagamaan Mahasiswa (IKM) Tahun 2025 (dirilis Januari 2026). Mencakup mahasiswa PTKI dan non-PTKI (Kristen, Katolik, Hindu, Buddha).

Ditjen Bimas Islam Kemenag RI & Alvara Strategic Research, Survei Indeks Kualitas Kehidupan Beragama Umat Islam Tahun 2025 (dirilis 31 Desember 2025). Melibatkan 1.208 responden di 34 provinsi, margin of error 2,89%, tingkat kepercayaan 95%.

Kemenag RI & P3M Universitas Indonesia, Survei Evaluasi Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) 2025 (dirilis 22 Desember 2025). Skor IKUB mencapai 77,89, tertinggi sejak survei 2015.

Share Article
Topics
Editorial Team
qaengineer idn media
Editorqaengineer idn media

Related Articles

See More